Pakar manajemen dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, baru-baru ini meluncurkan buku berjudul The Great Shifting, Series on Disruption. Sebagai salah satu penggemar karya Rhenald, penulis segera membeli buku tersebut dan isinya memang menarik.

Dalam salah satu bab di buku itu, digambarkan proses shifting yang dilakukan seorang pengusaha muda dari Bandung, Perry Tristianto. Berawal dari era tahun 90-an, Perry melihat tren jins di masyarakat Bandung, maka ia pun membuka 23 gerai celana jins di jalan Cihampelas. Tapi Perry sudah meramalkan, setiap 10 tahun sekali tren yang berhubungan dengan gaya hidup pasti mengalami perubahan, maka ia pun melakukan shifting, berpindah ke bisnis factory outlet, yang menjual barang-barang eks ekspor.

Ternyata konsep factory outlet ini sukses, dan ini mendorong banyak pengusaha lain membuka bisnis serupa, utamanya di jalan Riau dan jalan Setiabudi Bandung. Apakah Perry sudah cukup puas? Tidak. Ia melihat konsep factory outlet ini pun akan mengalami penurunan, karena saat ini orang dengan mudah mencari pakaian secara online yang menawarkan harga yang murah bahkan ada yang gratis ongkir alias ongkos kirim.

Perry pun mencoba beberapa bisnis baru, seperti membuka kebun stroberi bernama All About Strawberry di Cimahi dan taman kupu-kupu. Tapi kedua bisnis ini kurang berkembang, sehingga Perry menutup bisnisnya. Apakah ia berhenti sampai di situ? Ternyata tidak. Dengan kejelian bisnisnya, Perry membuka farmhouse Susu Lembang, dan di sebelahnya yaitu Tahu Susu Lembang. Tahun 2012, Ferry membuka floating marketing Lembang.

Aneka bisnis baru ini menunjukkan kejelian Perry melakukan shifting. Di farmhouse, orang bisa berswa foto dengan menyewa pakaian ala Belanda tempo dulu, juga bisa mengunjungi Rumah Hobbit yang bentuknya persis seperti di film Lord Of The Ring yang termasyur itu.

Ada yang menarik dari studi kasus Perry ini. Pertama, ia sudah meramalkan product life cycle bisnis bertema gaya hidup hanya sekitar sepuluh tahun, setelah itu pebisnis harus melakukan shifting. Tapi shifting ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Dalam kasus Perry ia harus mengalami kegagalan dulu sewaktu melakukan shifting, baru berhasil setelah berpindah lagi ke bisnis eco-tourism di Lembang.

Juga ada lagi hal yang menarik, yaitu target market. Semula Perry membidik konsumen berpenghasilan menengah ke atas, maka ia membuat produknya dengan atribut yang serupa, misalnya tiket masuk yang tidak murah, penyewaan pakaian ala Eropa, bangunan Hobbit yang bernuansa Eropa dan seterusnya. Ternyata yang datang adalah segmen konsumen berpenghasilan menengah ke bawah, yang membawa sepeda motor atau mobil LCGC (low cost green car). Dalam kasus ini berlaku teori ekonomi, bahwa orang akan membeli barang komplementer yang lebih bagus, jika penghasilannya bertambah.

Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan