Rupiah masih mengalami tekanan berat dan pekan lalu kembali anjlok ke level psikologis Rp 15.000. Padahal, bank sentral telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menguatkan rupiah.

Mengapa rupiah tak kunjung menguat? Masih adakah jurus baru yang akan dilancarkan BI untuk meredam gerak liar rupiah? Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkannya kepada Wartawan KONTAN Nina Dwiantikan, Titis Nurdiana, dan Adinda Ade Mustami, Senin (1/10). Berikut nukilannya:

KONTAN: Kenapa rupiah bisa terdepresiasi hingga menembus Rp 15.000?
PERRY:
Kita harus melihat apa yang terjadi dengan nilai tukar rupiah secara relatif. Jika bicara soal nilai tukar, jangan hanya dilihat levelnya, tetapi juga tingkat depresiasinya dan bandingkan dengan negara lain.

Kenapa perlu membandingkan dengan negara lain? Karena kita sedang menghadapi fenomena global,  sehingga tidak bisa dengan hanya melihat Indonesia.

Faktanya, depresiasi nilai tukar rupiah tidak lebih dari 9{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}. Demikian juga volatilitasnya, tidak lebih dari 8{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}. Artinya, depresiasi nilai tukar rupiah lebih rendah daripada negara-negara lain yang tentu saja dengan kondisi ekonomi hampir serupa. Depresiasi nilai tukar rupiah lebih rendah dibanding mata uang India, Chile, apalagi Brasil, Afrika

Selatan, Turki, dan Argentina. Di India, depresiasi nilai tukar rupee 11{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}–12{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}. Bahkan Turki 40{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} dan Argentina 50{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}.

KONTAN: Tapi, rupiah masih terus melemah?
PERRY:
Kami tidak menargetkan satu level tertentu. Faktanya, depresiasi nilai tukar rupiah cukup baik bahkan lebih baik daripada sejumlah negara lain dengan kondisi sama. Dan, ini terus jadi acuan kami.

Kami memantau dua hal. Kebijakan The Fed adalah event di mana probalilitasnya sudah tahu. Tetapi, masih ada kebijakan dari AS yang uncertainty atau belum bisa diketahui seperti kebijakan fiskal.

Contoh, kenapa AS terus mendorong pertumbuhan ekonomi padahal sudah mencapai target? Dan, kami tidak duga terjadi ketegangan perang dagang yang meningkat dan meluas.

Tapi tidak benar, jika yang sudah kami lakukan tidak berdampak. Toh, sudah kelihatan dampaknya seperti aliran modal asing mulai masuk ke dalam negeri. Tahun depan, kami meyakini kondisi akan lebih baik. Kami akan terus mengontrol kondisi badan, melakukan medical check up dan diet.

KONTAN: Persisnya, apa saja yang sudah dilakukan BI?

Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan