Sektor hulu minyak dan gas (migas) masih berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Meskipun perannya terus menurun, pendapatan negara dari sektor hulu migas Indonesia masih cukup besar. Hingga akhir November 2018, pendapatan negara baik dari PNBP Migas maupun PPh Migas mencapai Rp 179,6 triliun, atau 10,8{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} dari total realisasi penerimaan pada periode yang sama.

Selain itu, energi yang berasal dari olahan hasil migas juga masih memegang peranan penting dalam penyediaan energi nasional. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia pada tahun 2018 mencapai 78 juta kiloliter (kl) atau setara dengan 1,34 juta barel per hari (bph). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, konsumsi BBM konsisten meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 1,7{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}.

Saat kebutuhan BBM meningkat dan peran sektor hulu migas dalam pendapatan negara masih cukup besar, kinerja produksi migas Indonesia cenderung berkebalikan. Produksi migas tahun 2018 hanya 1,92 juta bph atau terendah dalam periode 2000 2018. Penurunan angka produksi migas tersebut karena lapangan migas yang berproduksi di Indonesia semakin tua. Data SKK Migas menunjukkan, 36 wilayah kerja dari 89 blok eksploitasi saat ini sudah berumur 25–50 tahun. Bahkan, empat wilayah kerja berumur di atas 50 tahun.

Untuk meningkatkan produksi dan menggantikan produksi lapangan migas berumur tua, kegiatan eksplorasi harus ditingkatkan agar lapangan migas baru dapat ditemukan. Namun ironis, eksplorasi di Indonesia juga cenderung menurun.

Menurut data SKK Migas, pengeboran eksplorasi pada tahun 2018 hanya terealisasi 21 sumur atau catatan terendah dalam delapan tahun terakhir. Hal itu mengindikasikan menurunnya minat investasi jangka panjang dari investor di sektor hulu migas Indonesia.

Paling tidak ada tiga tantangan yang harus dipahami untuk mendorong kegiatan eksplorasi. Pertama, daya saing investasi hulu migas Indonesia saat ini tergolong rendah. Hal itu terlihat dari data dalam laporan Fraser Institute mengenai industri hulu migas global. Menurut laporan tersebut, Indonesia menempati posisi ke-10 negara yang paling tidak menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas.

Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan