Korupsi adalah penyakit, kanker yang menggerogoti tatanan budaya, politik, ekonomi, serta menghancurkan fungsi organ vital masyarakat. Dalam terminologi Transparansi Internasional, korupsi adalah salah satu tantangan terbesar dunia kontemporer. Namun terminologi ini hanya menggambarkan tentang potensi destruksi sosial yang diakibatkan praktik korupsi. Sebab butuh kajian multidisipliner agar pemahaman korupsi benar-benar filosofis dan kompleks.

Definisi korupsi juga tidak bisa lepas dari kerangka ruang dan waktu, dan selalu berkembang dari waktu ke waktu. Contoh, siapa sangka istilah money laundry berasal dari bisnis tempat cucian milik mafia Al Capone di Amerika Serikat (AS), kini menjadi istilah umum yang masih tetap digunakan sampai sekarang. Untuk itu, kerja akademis dan advokat sangat dibutuhkan disini agar pemahaman dan pencegahan terhadap korupsi dapat dilakukan dengan baik.

Apalagi secara historis korupsi memiliki narasi yang bisa dirunut hingga ke masa lampau. Ada serangkaian kronologi waktu yang panjang dalam pewarisan nilai patrimonial masa lampau yang terkesan koruptif terhadap kehidupan masyarakat saat ini. Seperti halnya negosiasi, pemberian hadiah dan solidaritas tanpa syarat kepada keluarga besar berpengaruh, klan dan kelompok komunal lainnya (de Sardan 1999). Sehingga, realita sosial yang terjadi disuatu masyarakat akan mengakibatkan adanya perbedaan dalam memandang suatu kasus korupsi. Misalnya antara kultur masyarakat di Afrika dan Eropa tentu tidak bisa disamakan.

Begitupun dalam konteks kelompok keagamaan antara kelompok katolik di Eropa Barat yang bercorak kultur latin dan kelompok Nordic yang beraliran protestan. Bahkan di China, ada istilah Guanxi, yaitu semacam tradisi atau kebiasaan temurun (custom) untuk memberikan hadiah, bunga ataupun barang bagus dalam rangka membangun relasi dan koneksi dengan orang yang berpengaruh.

Oleh karena itu, tidak bisa dimungkiri bahwa pada saat ini penelitian tentang korupsi selalu dihadapkan pada perdebatan yang bias yang justru menghasilkan problema baru. Semisal, benarkah demokrasi dan korupsi memiliki relasi yang berlawanan? Apakah ada bukti kongkret membenarkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berimplikasi pada penurunan tingkat korupsi atau justru korupsi terjadi karena memang ada kesempatan yang terbuka?

Namun, beberapa pengamat tidak berhenti sampai disitu, mereka tetap mengusahakan sebuah konsensus bersama dengan memfokuskan pada satu titik, yaitu tentang penyebab dari korupsi itu sendiri. Paling tidak dengan menyandarkan pada penyebab hadirnya korupsi, pengamat dapat menemukan konklusi utuh tentang definisi terbaik korupsi.

Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan
admin Uncategorized