Beberapa malam lalu kita menyaksikan acara debat kandidat presiden dalam rangka pemilihan presiden 2019 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Banyak kalangan menanti-nanti berlangsungnya peristiwa yang merupakan salah satu tahapan pemilu serentak ini. Mereka beranggapan, debat sedikit banyak bisa memberikan gambaran hasil pemilu nanti. Di tengah ketidakpastian politik seperti sekarang, semua petunjuk, termasuk debat, dianggap penting untuk dicermati.

Maklum, selama ini ada anggapan bahwa pemilihan umum kerap menyandera dunia usaha. Para pengusaha menunda pelbagai langkah bisnis sembari menanti kepastian yang lebih solid mengenai siapa yang bakal memenangi pemungutan suara dalam pilpres. Istilahnya mereka memilih untuk bersikap wait and see.

Sikap “menanti” seperti itu konon juga berjangkit di pasar modal, khususnya bursa saham. Para investor cenderung menanti iklim investasi yang lebih sejuk di tengah-tengah hangatnya iklim politik dan sosial. Oleh sebab itu di negara-negara yang memiliki pasar modal lebih maju, bursa saham cenderung stagnan atau malah merosot akibat penantian semacam itu.

Lalu, bagaimana dengan bursa saham kita?

Beberapa hari lalu seorang analis saham beranggapan bahwa debat pilpres akan berpengaruh terhadap arah pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika debat sesuai harapan, mereka akan memborong atau tetap memegang erat saham yang sudah mereka kempit. Sebaliknya, jika debat tidak sesuai harapan, mereka akan melego saham-saham yang sudah mereka miliki. Biasanya, keputusan investasi mereka akan berpengaruh terhadap arah IHSG.

Di tengah hangat suasana politik yang kian mendekati hari-H pemilihan umum (pemilu) serentak pada 17 April 2019 mendatang, semua hal memang bisa kita coba kaitkan dengan hajatan demokrasi paling sakral tersebut. Pergerakan IHSG bisa jadi memang mencerminkan “kehendak” pasar.

Nah, jika memang begitu, kegelisahan yang kini menyeruak di kalangan masyarakat bahwa seolah-olah bangsa Indonesia sedang terpecah secara parah, mestinya bisa mereda. Mari kita tengok “persepsi bursa” terhadap situasi sosial politik terkini. Dibandingkan sebelum tiba masa kampanye pilpres yang mulai berlangsung pada 23 September 2018 lalu, IHSG saat ini sudah naik hingga 8,21{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}. Ya, IHSG naik dari 6.413,36 ke 5.882,22.

Memang, tidak bisa kita pungkiri bahwa menghijaunya bursa saham akhir-akhir ini turut ditopang situasi global yang mendorong dana-dana asing berburu lahan untuk menyemai investasi baru, termasuk ke bursa saham kita. Namun demikian, kesediaan mereka mempertaruhkan modal di bursa saham Indonesia bisa menjadi indikator bahwa iklim investasi di negeri kita masih cukup sejuk. Ingat, para manajer dana yang mengelola duit triliunan itu mestinya sangat objektif menakar risiko atas portofolio mereka, bukan?

Banyak pihak menilai situasi dan kondisi sosial politik saat ini belum sepanas suasana menjelang Pilpres 2014 silam. Kalau benar begitu, apa penilaian bursa saham kala itu terhadap risiko yang membayangi nasib portofolio mereka? Wah, ternyata, sepanas-panasnya situasi sosial politik waktu itu cuma mampu menekan turun IHSG sedalam 3,76{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164}, terhitung sejak waktu pendaftaran pasangan kandidat ke KPU. Malah, semakin mendekati hari-H, IHSG mulai beringsut naik lagi.

Jadi, mari kita sambut Pilpres 2019 dengan ceria, kecuali uang memperingatkan sebaliknya. Uang tidak pernah berpihak kepada salah satu kontestan, mereka hanya menginginkan syarat sederhana untuk bisa berbiak dengan subur: damai.•                   

Hasbi Maulana

Reporter: Hasbi Maulana
Editor: Tri Adi

Reporter: Hasbi Maulana
Editor: Tri Adi
Video Pilihan