Terobosan baru. Frasa ini bisa menjadi vitamin bagi korporasi yang menghadapi kebuntuan pendanaan. Biasanya, perusahaan memerlukan dana segar untuk ekspansi maupun membayar utang.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba tanggung ini, menghimpun dana memang bukan perkara gampang. Lihat saja, masih ada beberapa perusahaan memundurkan rencana IPO ke tahun depan. Alasannya beragam, mulai dari faktor ekonomi global hingga pertimbangan kondisi politik nasional. Jika pun IPO terwujud, hasilnya tidak maksimal karena perusahaan menetapkan harga IPO di rentang bawah.

Di pasar modal, instrumen seperti IPO, obligasi, MTN, hingga rights issue adalah langganan emiten. Di luar pasar modal, tentu ada pendanaan klasik: utang bank.

Berdasarkan data OJK per 28 September 2018, nilai pendanaan baru di pasar modal menyusut. Untuk emisi saham (IPO dan rights issue), misalnya, emiten hanya meraup Rp 40,14 triliun. Angka ini anjlok 58,96{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} dibandingkan periode sama tahun lalu. Kondisi serupa terjadi pada emisi obligasi dan sukuk, yang menyusut 17,38{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} ke Rp 556,40 triliun.

Di tengah seretnya kucuran dana konvensional, maka selayaknya perusahaan menyiapkan inovasi pendanaan. Pada akhir Agustus tahun lalu, PT Jasa Marga Tbk memulai terobosan dengan mencatatkan KIK EBA Mandiri JSMR01. Ini adalah produk sekuritisasi aset berupa potensi pendapatan jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi). Dengan permintaan Rp 5,1 triliun, Jasa Marga akhirnya menerbitkan Rp 2 triliun atau ada kelebihan permintaan sekitar 2,7 kali.

Sekuritisasi ini memberikan investor hak atas sebagian pendapatan ruas tol Jagorawi senilai Rp 400 miliar per tahun. Jumlah itu setara 57{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} dari total pendapatan tol sebesar Rp 700 miliar per tahun.

Di instrumen ini, Jasa Marga menawarkan future revenue. Memang ada kesan spekulatif. Namun investor yakin akan meraup untung, lantaran Tol Jagorawi memiliki nilai jual tinggi.

Selain KIK-EBA Tol Jagorawi, Jasa Marga meluncurkan pendanaan alternatif berupa Project Bond Ruas JORR W2 Utara (Rp 1,5 triliun), Global IDR Bond alias Komodo Bond (Rp 4 triliun) dan Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT) senilai Rp 3 triliun. Semua dana itu dipakai untuk ekspansi jalan tol.

Memang tak semua bisnis cocok dengan model pendanaan Jasa Marga. Tapi terobosan ini bisa menginspirasi korporasi lain agar kreatif membuka akses pendanaan baru.•

Sandy Baskoro

Reporter: Sandy Baskoro
Editor: Tri Adi

Reporter: Sandy Baskoro
Editor: Tri Adi

TAJUK