Saat ini masih sulit melihat mana perusahaan yang diuntungkan dan dirugikan akibat penguatan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Tetapi, jika dilihat secara makro, hampir semua emiten mendapatkan sentimen positif. Alasannya, makroekonomi Indonesia juga ikut positif.

Tapi pada dasarnya, penguatan mata uang Garuda di awal tahun ini tentu berdampak besar bagi emiten yang punya eksposur bahan baku yang pembeliannya dengan dollar AS. Misalnya seperti emiten farmasi.

Kita lihat, rata-rata 90{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} bahan baku emiten farmasi berasal dari impor. Artinya, ketika rupiah menguat, maka beban biaya perusahaan akan berkurang, karena pendapatan mereka dalam bentuk rupiah tidak terkikis kurs. Tidak ada perusahaan yang merugi.

Namun, masih terbuka kemungkinan ada perusahaan yang kinerjanya atau penjualannya melemah akibat penurunan nilai tukar dollar AS. Di antaranya adalah perusahaan yang mayoritas pendapatannya dari ekspor.

Contohnya adalah emiten-emiten penambang batubara. Perusahaan-perusahaan tambang ini banyak melakukan ekspor.

Meski begitu, saya kira dampak penguatan rupiah terhadap dollar AS tidak akan terlalu menekan kinerja emiten tersebut, terutama jika emiten memasang volume ekspor yang tinggi. Akan tetapi kalau menggunakan acuan kurs semester IV-2018 ketika rupiah melemah ke Rp 14.600-an, maka perusahaan harus merevisi pendapatan.

Untuk investor yang punya saham berorientasi ekspor, tidak perlu panik. Karena seperti yang saya bilang, jika rupiah membaik, makro ekonomi akan membaik. Kalau makroekonomi membaik, saham akan positif juga.

Nilai tukar rupiah di tahun ini akan tetap fluktuatif. Tetapi, karena terjadi penguatan di awal tahun, ini bisa menjadi gambaran kalau rupiah di tahun 2019 berpeluang lebih menguat dari tahun lalu. •             

Alfred Nainggolan
Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Tri Adi

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Tri Adi
Video Pilihan