Kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), pensiunan, atau kenaikan upah minimum tenaga kerja di perusahaan swasta selalu menjadi isu seksi untuk para politisi. Maklumlah, di tahun 2018 diperkirakan ada sekitar 127 juta orang yang masuk dalam kategori pekerja. Jumlah yang sangat besar, belum lagi ditambah 2 jutaan pensiunan ASN, TNI, dan Polri.

Suara mereka akan jadi pembawa bandul pilihan politik warga negeri ini. Ibarat memancing, janji kepada para pekerja dan pensiunan adalah memancing di lubuk yang banyak ikannya. Tak heran kalau ada banyak “calo” dan free rider yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan koceknya.

Perebutan suara mereka di kalangan politisi terutama para calon presiden yang janjinya akan dituntut jadi kebijakan baru waktu dia terpilih kelak, tentu sangat sengit. Tapi cara-cara instan dan populis untuk meraih suara dengan memberikan janji yang membuat orang-orang asal senang akan membahayakan.

Ibarat dalam keluarga, anak-anak yang tidak mau tahu bagaimana repotnya kondisi keuangan si bapak akan terus meminta handphone baru, motor baru, atau bahkan mobil baru. Bapak yang baik akan mengajak anaknya jadi dewasa dengan menahan emosi dan nafsu dengan alasan yang tepat.

Bisa dengan mengatur waktu belanja dengan meminta juga komitmen si anak terhadap kewajibannya. Mana bisa dibelikan motor baru kalau rapor di sekolahnya selalu merah? Atau mungkin malah meminta pengertian si anak atas kemampuan ekonomi si bapak yang sedang banyak utang. Walau mereka mungkin keturunan dari keluarga kaya raya, kondisi keuangan keluarga belum tentu selalu bagus.

Keuangan keluarga yang baik harus diatur pengeluarannya. Tidak bisa 100{09bebef3b0e0029b853c45b9bac82e8ed8d854038b1a61a83d26965c62cb4164} pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi. Sekaya apa pun sebuah keluarga semua hartanya akan habis kalau anak-anaknya tidak bisa mengontrol nafsu belanja dan menguasai barang.

Bukannya tanpa contoh, Yunani sekitar 10 tahun lalu mengalami krisis ekonomi gara-gara sang perdana menterinya jorjoran memberikan uang untuk para pensiunan. Akibatnya, warga negaranya pun berlomba untuk pensiun.

Kalau dulu ada istilah asal bapak senang untuk orang yang senang menjilat atasan, saat ini mungkin istilahnya asal anak-anak senang untuk pemimpin populis. Keinginan besar untuk dipilih membuat mereka jorjoran memberi janji-janji kenaikan gaji atau uang pensiun.•

Djumyati Partawidjaja

Reporter: Djumyati Partawidjaja
Editor: Tri Adi

Reporter: Djumyati Partawidjaja
Editor: Tri Adi
Video Pilihan